BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Islam adalah agama yang memberikan arti yang sangat penting bagi
kehidupan manusia. Islam memiliki dasar pokok yang menjadi pedoman bagi
kehidupan manusia yakni al-Qur'an dan al-Hadits yang di dalamnya menguraikan dengan
jelas tentang moral atau akhlak dalam kegiatan manusia. Akhlak dalam Islam
merupakan salah satu aspek yang sangat penting.
Namun nampaknya melihat fenomena yang terjadi kehidupan umat manusia pada
zaman sekarang ini sudah jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Akibatnya bentuk
menyimpangan terhadap nilai tersebut mudah ditemukan di lapisan masyarakat. Hal
ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa yang terjadi, yang menunjukkan
penyimpangan terhadap nilai yang terdapat di dalamnya. Minimnya pengetahuan masyarakat
terhadap pemahaman al-Qur’an, akan semakin memperparah kondisi masyarakat
berupa dekadensi moral. Oleh karena itu, untuk memurnikan kembali kondisi yang
sudah tidak relevan dengan ajaran Islam, satu-satunya upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan kembali kepada ajaran yang terdapat di dalamnya.
Sangat memprihatinkan bahwa kemerosotan akhlak tidak hanya terjadi pada
kalangan muda, tetapi juga terhadap orang dewasa, bahkan orang tua. Kemerosotan
akhlak pada anak-anak dapat dilihat dengan banyaknya siswa yang tawuran, mabuk,
berjudi, durhaka kepada orang tua bahkan sampai membunuh sekalipun. Untuk itu,
diperlukan upaya strategis untuk memulihkan kondisi tersebut, di antaranya
dengan menanamkan kembali akan pentingnya peranan orang tua dan pendidik dalam
membina moral anak didik.
Lingkungan keluarga dalam hal ini orang tua memiliki peran yang sangat
besar serta merupakan komunitas yang paling efektif untuk membina seorang anak
agar berperilaku baik. Di sinilah seharusnya orang tua mencurahkan rasa kasih sayang
dan perhatian kepada anaknya untuk mendapatkan bimbingan rohani yang jauh lebih
penting dari sekedar materi. Seandainya dalam lingkungan keluarga sudah
tercipta suasana yang harmonis maka pembentukan akhlak mulia seorang anak akan
lebih mudah dan seperti itu pula sebaliknya.
Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dalam membina anak,
hendaknya setiap orang tua memahami terhadap kandungan yang ada di dalam al-
Qur’an, khususnya yang terkait dengan akhlak mulia, karena bagi umat Muslim
al-Qur’an merupakan referensi utama dalam mengatur hidupnya di samping hadits
Rasulallah SAW. Islam sebagai agama yang universal meliputi semua aspek
kehidupan manusia mempunyai sistem nilai yang mengatur hal-hal yang baik, yang
dinamakan dengan akhlak Islami. Sebagai tolok ukur perbuatan baik dan buruk
mestilah merujuk kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, karena Rasulallah
SAW adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT
dalam al – Qur’an Surat Al – Ahzab ayat
21 :
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Pembinaan akhlak merupakan faktor yang sangat penting dalam membangun
sebuah rumah tangga yang sakinah. Suatu keluarga yang tidak dibangun dengan
tonggak akhlak mulia tidak akan dapat hidup bahagia sekalipun kekayaan
materialnya melimpah ruah. Sebaliknya terkadang suatu keluarga yang serba
kekurangan dalam masalah ekonominya, dapat bahagia berkat pembinaan akhlak
keluarganya.
Di dalam al-Qur’an terdapat perilaku (akhlak) terpuji yang hendaknya
diaplikasikan oleh umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena akhlak
mulia merupakan barometer terhadap kebahagiaan, keamanan, ketertiban dalam
kehidupan manusia dan dapat dikatakan bahwa ahklak merupakan tiang berdirinya
umat, sebagaimana shalat sebagai tiang agama Islam. Dengan kata lain apabila
rusak akhlak suatu umat maka rusaklah bangsanya.
Zuhairini mengutip bahwa penyair besar Ahmad Syauqi Beq pernah menulis: “Bangsa
itu hanya bisa bertahan selama mereka masih memiliki akhlak. Apabila akhlak telah
tiada dari mereka, bangsa itupun akan lenyap”.[1]
Syair tersebut menunjukkan bahwa akhlak dapat dijadikan tolok ukur tinggi
rendahnya suatu bangsa. Seseorang akan dinilai bukan karena jumlah materinya
yang melimpah, ketampanan wajahnya dan bukan pula karena jabatannya yang
tinggi. Allah SWT akan menilai hamba-Nya berdasarkan tingkat ketakwaan dan amal
(akhlak baik) yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki akhlak mulia akan
dihormati masyarakat akibatnya setiap orang di sekitarnya merasa tentram dengan
keberadaannya dan orang tersebut menjadi mulia di lingkungannya. Melihat
fenomena yang terjadi nampaknya di zaman sekarang ini akhlak mulia adalah hal
yang mahal dan sulit diperoleh, hal ini seperti telah penulis kemukakan terjadi
akibat kurangnya pemahaman terhadap nilai akhlak yang terdapat dalam al-Qur’an
serta besarnya pengaruh lingkungan. Manusia hanya mengikuti dorongan nafsu dan
amarah saja untuk mengejar kedudukan dan harta benda dengan caranya sendiri,
sehingga ia lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah SWT. Tidak dapat dipungkiri
juga bahwa kemerosotan akhlak terjadi akibat adanya dampak negatif dari
kemajuan di bidang teknologi yang tidak diimbangi dengan keimanan dan telah
menggiring manusia kepada sesuatu yang bertolak belakang dengan nilai al-Qur’an.
Namun hal ini tidak menafikan bahwa manfaat dari kemajuan teknologi itu jauh
lebih besar daripada madharatnya. Masalah di atas sudah barang tentu memerlukan
solusi yang diharapkan mampu mengantisipasi perilaku yang mulai dilanda krisis
moral itu, tindakan preventif perlu ditempuh agar dapat mengantarkan manusia
kepada terjaminnya moral generasi bangsa yang dapat menjadi tumpuan dan harapan
bangsa serta dapat menciptakan dan sekaligus memelihara ketentraman dan
kebahagiaan di masyarakat. Untuk dapat memiliki akhlak yang mulia sesuai dengan
tuntunan al-Qur’an mestilah berpedoman pada Rasulallah SAW karena beliau
memiliki sifat-sifat terpuji yang harus dicontoh dan menjadi panduan bagi
umatnya. Nabi SAW adalah orang yang kuat imannya, berani, sabar dan tabah dalam
menerima cobaan. Beliau memiliki akhlak yang mulia, oleh karenanya beliau patut
ditiru dan dicontoh dalam segala perbuatannya. Allah SWT memuji akhlak Nabi dan
mengabadikannya dalam ayat al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
Artinya : “Dan Sesungguhnya
kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS al Qalam [68]: 4)”
Dalam sebuah hadits Nabi SAW, juga dijelaskan sebagai berikut:
انما بعثت لاتمم مك رم الاخلاق (روه امد و البيهقى)
Artinya : “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk
menyempurnakan keutamaan akhlak” (HR. Ahmad & Baihaqi).
Akhlak al-karimah merupakan sarana untuk mencapai kesuksesan dunia dan
akhirat, dengan akhlak pula seseorang akan diridhai oleh Allah SWT, dicintai
oleh keluarga dan manusia pada umumnya. Ketentraman dan kerukunan akan diraih
manakala setiap individu memiliki akhlak seperti yang dicontohkan Rasulallah
SAW. Mengingat pentingnya pembinaan akhlak bagi terciptanya kondisi lingkungan
yang harmonis, diperlukan upaya serius untuk menanamkan nilai-nilai tersebut
secara intensif. Pembinaan akhlak berfungsi sebagai panduan bagi manusia agar
mampu memilih dan menentukan suatu perbuatan dan selanjutnya menetapkan mana
yang baik dan mana yang buruk.
Berdasarkan hasil observasi sementara, peneliti menemukan data bahwa krisis
akhlak terjadi di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa
Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu. Problematika akhlak tersebut antara
lain; 1) dalam berbicara siswa suka berbohong, mengucapkan perkataan yang
kasar, mengejek, dan berteriak – teriak di dalam kelas, 2) dalam bersikap siswa
suka membangkang, jahil, keras kepala dan melalaikan tanggung jawab, 3) dalam
berpakaian siswa suka membuka auratnya dan memakai asesoris yang berlebihan ke
sekolah, 4) dalam berprilaku siswa suka berkelahi, mencuri, merokok, ,menonton
aksi-aksi pornografi, bahkan sampai melakukan pergaulan bebas.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk
mengangkat permasalahan tersebut dan dituangkan dalam skripsi ini dengan judul
: “Akhlak Siswa dalam Berinteraksi dengan Lingkungannya di Madrasah
Ibtidaiyah Negeri Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu”
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan kepala
sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu ?
2.
Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan guru
di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu ?
3.
Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan orang
tua di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu ?
4.
Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan teman
sebaya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu ?
5.
Bagaimana koordinasi yang dilakukan kepala sekolah,
guru dan orang tua dalam membina akhlak siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri
Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu ?
C.
Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian ini dibuat adalah untuk mengetahui :
1.
Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan kepala sekolah
di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu.
2.
Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan guru di Madrasah
Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
3.
Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan orang tua di
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu.
4.
Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan teman di
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab.
Labuhanbatu.
5.
Koordinasi yang dilakukan kepala sekolah, guru dan
orang tua dalam membina akhlak siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk
Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
D.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat dalam rangka
pengembangan khasanah ilmu pengetahuan tentang : “Akhlak Siswa dalam
Berinteraksi dengan Lingkungannya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk
Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu”
2.
Manfaat Praktis
Adapun secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi :
1)
Kepala Sekolah
Kepala sekolah senantiasa membimbing para guru dalam meningkatkan
pembinaan akhlak kepada siswa
2)
Guru
Guru senantiasa membina akhak siswa terhadap lingkunganya dengan baik
kepada siswa.
3)
Orang Tua
Orang tua senantiasa memberikan contoh atau teladan yang baik kepada
siswa.
4)
Siswa
Siswa agar senantiasa berkahklak ketika berinteraksi
dengan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar