Selasa, 17 Juli 2012

Akhlak Siswa Dalam Berinteraksi Dengan Lingkungannya


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang  Masalah
Islam adalah agama yang memberikan arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Islam memiliki dasar pokok yang menjadi pedoman bagi kehidupan manusia yakni al-Qur'an dan al-Hadits yang di dalamnya menguraikan dengan jelas tentang moral atau akhlak dalam kegiatan manusia. Akhlak dalam Islam merupakan salah satu aspek yang sangat penting.
Namun nampaknya melihat fenomena yang terjadi kehidupan umat manusia pada zaman sekarang ini sudah jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Akibatnya bentuk menyimpangan terhadap nilai tersebut mudah ditemukan di lapisan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa yang terjadi, yang menunjukkan penyimpangan terhadap nilai yang terdapat di dalamnya. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap pemahaman al-Qur’an, akan semakin memperparah kondisi masyarakat berupa dekadensi moral. Oleh karena itu, untuk memurnikan kembali kondisi yang sudah tidak relevan dengan ajaran Islam, satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah dengan kembali kepada ajaran yang terdapat di dalamnya.
Sangat memprihatinkan bahwa kemerosotan akhlak tidak hanya terjadi pada kalangan muda, tetapi juga terhadap orang dewasa, bahkan orang tua. Kemerosotan akhlak pada anak-anak dapat dilihat dengan banyaknya siswa yang tawuran, mabuk, berjudi, durhaka kepada orang tua bahkan sampai membunuh sekalipun. Untuk itu, diperlukan upaya strategis untuk memulihkan kondisi tersebut, di antaranya dengan menanamkan kembali akan pentingnya peranan orang tua dan pendidik dalam membina moral anak didik.
Lingkungan keluarga dalam hal ini orang tua memiliki peran yang sangat besar serta merupakan komunitas yang paling efektif untuk membina seorang anak agar berperilaku baik. Di sinilah seharusnya orang tua mencurahkan rasa kasih sayang dan perhatian kepada anaknya untuk mendapatkan bimbingan rohani yang jauh lebih penting dari sekedar materi. Seandainya dalam lingkungan keluarga sudah tercipta suasana yang harmonis maka pembentukan akhlak mulia seorang anak akan lebih mudah dan seperti itu pula sebaliknya.
Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dalam membina anak, hendaknya setiap orang tua memahami terhadap kandungan yang ada di dalam al- Qur’an, khususnya yang terkait dengan akhlak mulia, karena bagi umat Muslim al-Qur’an merupakan referensi utama dalam mengatur hidupnya di samping hadits Rasulallah SAW. Islam sebagai agama yang universal meliputi semua aspek kehidupan manusia mempunyai sistem nilai yang mengatur hal-hal yang baik, yang dinamakan dengan akhlak Islami. Sebagai tolok ukur perbuatan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, karena Rasulallah SAW adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam al – Qur’an   Surat Al – Ahzab ayat 21 :
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Pembinaan akhlak merupakan faktor yang sangat penting dalam membangun sebuah rumah tangga yang sakinah. Suatu keluarga yang tidak dibangun dengan tonggak akhlak mulia tidak akan dapat hidup bahagia sekalipun kekayaan materialnya melimpah ruah. Sebaliknya terkadang suatu keluarga yang serba kekurangan dalam masalah ekonominya, dapat bahagia berkat pembinaan akhlak keluarganya.
Di dalam al-Qur’an terdapat perilaku (akhlak) terpuji yang hendaknya diaplikasikan oleh umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena akhlak mulia merupakan barometer terhadap kebahagiaan, keamanan, ketertiban dalam kehidupan manusia dan dapat dikatakan bahwa ahklak merupakan tiang berdirinya umat, sebagaimana shalat sebagai tiang agama Islam. Dengan kata lain apabila rusak akhlak suatu umat maka rusaklah bangsanya.
Zuhairini mengutip bahwa penyair besar Ahmad Syauqi Beq pernah menulis: “Bangsa itu hanya bisa bertahan selama mereka masih memiliki akhlak. Apabila akhlak telah tiada dari mereka, bangsa itupun akan lenyap”.[1]
Syair tersebut menunjukkan bahwa akhlak dapat dijadikan tolok ukur tinggi rendahnya suatu bangsa. Seseorang akan dinilai bukan karena jumlah materinya yang melimpah, ketampanan wajahnya dan bukan pula karena jabatannya yang tinggi. Allah SWT akan menilai hamba-Nya berdasarkan tingkat ketakwaan dan amal (akhlak baik) yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki akhlak mulia akan dihormati masyarakat akibatnya setiap orang di sekitarnya merasa tentram dengan keberadaannya dan orang tersebut menjadi mulia di lingkungannya. Melihat fenomena yang terjadi nampaknya di zaman sekarang ini akhlak mulia adalah hal yang mahal dan sulit diperoleh, hal ini seperti telah penulis kemukakan terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap nilai akhlak yang terdapat dalam al-Qur’an serta besarnya pengaruh lingkungan. Manusia hanya mengikuti dorongan nafsu dan amarah saja untuk mengejar kedudukan dan harta benda dengan caranya sendiri, sehingga ia lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah SWT. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa kemerosotan akhlak terjadi akibat adanya dampak negatif dari kemajuan di bidang teknologi yang tidak diimbangi dengan keimanan dan telah menggiring manusia kepada sesuatu yang bertolak belakang dengan nilai al-Qur’an. Namun hal ini tidak menafikan bahwa manfaat dari kemajuan teknologi itu jauh lebih besar daripada madharatnya. Masalah di atas sudah barang tentu memerlukan solusi yang diharapkan mampu mengantisipasi perilaku yang mulai dilanda krisis moral itu, tindakan preventif perlu ditempuh agar dapat mengantarkan manusia kepada terjaminnya moral generasi bangsa yang dapat menjadi tumpuan dan harapan bangsa serta dapat menciptakan dan sekaligus memelihara ketentraman dan kebahagiaan di masyarakat. Untuk dapat memiliki akhlak yang mulia sesuai dengan tuntunan al-Qur’an mestilah berpedoman pada Rasulallah SAW karena beliau memiliki sifat-sifat terpuji yang harus dicontoh dan menjadi panduan bagi umatnya. Nabi SAW adalah orang yang kuat imannya, berani, sabar dan tabah dalam menerima cobaan. Beliau memiliki akhlak yang mulia, oleh karenanya beliau patut ditiru dan dicontoh dalam segala perbuatannya. Allah SWT memuji akhlak Nabi dan mengabadikannya dalam ayat al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ
Artinya : “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS al Qalam [68]: 4)
Dalam sebuah hadits Nabi SAW, juga dijelaskan sebagai berikut:
انما بعثت لاتمم مك رم الاخلاق (روه امد و البيهقى)
Artinya : “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak” (HR. Ahmad & Baihaqi).
Akhlak al-karimah merupakan sarana untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat, dengan akhlak pula seseorang akan diridhai oleh Allah SWT, dicintai oleh keluarga dan manusia pada umumnya. Ketentraman dan kerukunan akan diraih manakala setiap individu memiliki akhlak seperti yang dicontohkan Rasulallah SAW. Mengingat pentingnya pembinaan akhlak bagi terciptanya kondisi lingkungan yang harmonis, diperlukan upaya serius untuk menanamkan nilai-nilai tersebut secara intensif. Pembinaan akhlak berfungsi sebagai panduan bagi manusia agar mampu memilih dan menentukan suatu perbuatan dan selanjutnya menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk.
Berdasarkan hasil observasi sementara, peneliti menemukan data bahwa krisis akhlak terjadi di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu. Problematika akhlak tersebut antara lain; 1) dalam berbicara siswa suka berbohong, mengucapkan perkataan yang kasar, mengejek, dan berteriak – teriak di dalam kelas, 2) dalam bersikap siswa suka membangkang, jahil, keras kepala dan melalaikan tanggung jawab, 3) dalam berpakaian siswa suka membuka auratnya dan memakai asesoris yang berlebihan ke sekolah, 4) dalam berprilaku siswa suka berkelahi, mencuri, merokok, ,menonton aksi-aksi pornografi, bahkan sampai melakukan pergaulan bebas.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut dan dituangkan dalam skripsi ini dengan judul : “Akhlak Siswa dalam Berinteraksi dengan Lingkungannya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan kepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu ?
2.      Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu ?
3.      Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan orang tua di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu ?
4.      Bagaimana akhlak siswa dalam berinteraksi dengan teman sebaya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu ?
5.      Bagaimana koordinasi yang dilakukan kepala sekolah, guru dan orang tua dalam membina akhlak siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu ?
C.     Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian ini dibuat adalah untuk mengetahui :
1.      Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan kepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
2.      Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
3.      Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan orang tua di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
4.      Akhlak siswa dalam berinteraksi dengan teman di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
5.      Koordinasi yang dilakukan kepala sekolah, guru dan orang tua dalam membina akhlak siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kab. Labuhanbatu.
D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat dalam rangka pengembangan khasanah ilmu pengetahuan tentang : “Akhlak Siswa dalam Berinteraksi dengan Lingkungannya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Teluk Sentosa Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu”
2.      Manfaat Praktis
Adapun secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi :
1)      Kepala Sekolah
Kepala sekolah senantiasa membimbing para guru dalam meningkatkan pembinaan akhlak kepada siswa
2)      Guru
Guru senantiasa membina akhak siswa terhadap lingkunganya dengan baik kepada siswa.
3)      Orang Tua
Orang tua senantiasa memberikan contoh atau teladan yang baik kepada siswa.
4)      Siswa
Siswa agar senantiasa berkahklak ketika berinteraksi dengan lingkungannya.


[1] Dra. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), h. 53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar